Tak Ingin Jadi Pengaruh Buruk, Inikah Akhir Perjalanan Spank?
Spank Band ©KapanLagi.com/Ruswanto
Kapanlagi.com - Saat ini tidak banyak musisi maupun penyanyi yang berpikir bagaimana menghadirkan sebuah musik bagi anak-anak sambil tetap membawa unsur pendidikan. Lebih dari itu, hanya segelintir pelaku dunia musik yang masih peduli dengan apa yang dikonsumsi telinga anak-anak kecil saat ini.
Di tengah maraknya lagu yang mengusung tema cinta, Spank, boleh dibilang cukup nekat untuk menolak menjadi sama. Pendidikan, keceriaan, dan cara anak-anak kecil untuk bermimpi yang tak lagi muncul di lagu-lagu modern pun mereka kemas dalam sebuah lagu yang berjudul Dewasa Sejak Dini.
Sayangnya, kata 'Spank' sendiri memiliki konotasi negatif yang sama sekali bertolak belakang dengan misi yang mereka bawa sejak awal membentuk band ini. Inilah yang membuat sang vokalis, VizaĀ Mahasa, berpikir kembali apakah langkahnya bersama SpankĀ sudah tepat atau tidak.
Inikah titik akhir dari perjalanan singkat sang pahlawan anak-anak? ©Path
Hasil pemikirannya itu pun ia unggah ke akun media sosial Path pribadinya beberapa waktu lalu. Ada sebuah kalimat yang sangat menggelitik namun memiliki makna paling dalam dari semua barisan kata-katanya.
Advertisement
"Jadi, apakah gue jadi bad influence dalam menambah perbendaharaan kata yang buruk bagi mereka, adik-adik kecil yang gue sayangin, yang mana memutus mata rantai kekerasan secara psikis dan fisik pada anak adalah misi gue yang diusung lewat salah satu lagu gue?," tulis VizaĀ Mahasa.
Tersirat sedikit rasa enggan untuk meneruskan langkahnya bersama SpankĀ untuk menolong anak-anak kecil di era musik modern saat ini. Bahkan, komentar yang diutarakan AnjiĀ pun jelas semakin menambah pemikiran band dengan misi hebat ini.
langkah Spank sudah terlalu jauh, berhenti tak lagi menjadi solusi ©Path
Jelas semua hal yang dilakukan SpankĀ lewat karya-karyanya sudah sangat baik. Tapi kalimat 'SuPaya Allah Ngeridhoi Kita' yang menjadi titik awal nama SpankĀ sendiri justru berubah menjadi batu sandungan yang harus diselesaikan oleh VizaĀ dan teman-temannya.
Apakah berhenti menjadi solusi? Sama sekali bukan. Selain rasa malu atas ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah, siapa lagi musisi yang masih sadar untuk melindungi anak-anak dari lagu-lagu yang cuma berbicara cinta dan patah hati?
Bukan cuma sebagai trigger, sosok seperti SpankĀ harus tetap ada bahkan beregenerasi. Namun kembali lagi, apakah buah pemikiran sang vokalis memang menjadi akhir dari langkah pahlawan anak-anak Indonesia?
Sudah Baca Yang Ini?
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(kpl/ntn)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
-
Teen - Lifestyle Gadget Smartwatch Kece Buat Gen Z yang Stylish, Fungsional, dan Nggak Bikin Kantong Kaget
